Setelah sekian lama berkutat dengan kesibukan pekerjaan, sepertinya saya butuh me time. Secara sebagai seorang ibu muda pekerja, sangat sulit untuk meluangkan waktu untuk me time. Entah, karena budaya atau cara pandang masyarakat Indonesia yang salah terhadap me time terutama untuk seorang ibu-ibu. Masyarakat Indonesia beranggapan seakan ibu-ibu yang menginginkan me time adalah seorang ibu yang egois. Yang hanya memikirkan diri sendiri. Saya sendiri pernah mengalaminya. Kakak ipar saya ngerumpi dengan tetangga tentang saya. "Feri jalan-jalan sendiri aja tuh. Gak ngajak-ngajak anak dan suaminya. Istri macam apa coba? Maunya seneng-seneng sendirian aja." Saya sih tidak ambil pusing apa perkataan orang lain, yaa walaupun kakak ipar sendiri. Yang penting anak dan suami saya tidak mempermasalahkan apa yang saya lakukan. Justru suami saya sangat mendukung saya. Katanya sih, "udah sono jalan-jalan biar gak bete!
Sebut saja keluarga "D", keluarga kecil yang tinggal di gang sempit Cengkareng. Sebuah daerah di Jakarta Barat yang lumayan cukup padat. Di sebuah sudutnya, tinggallah sekelompok perantauan orang Jawa dimana keluarga "D" berada di dalamnya. Tinggal di lingkungan perantauan yang berasal dari satu suku yang sama yaitu Jawa, keluarga "D" tak pernah merasa kekurangan perhatian layaknya keluarga. Merasa senasib dan sepenanggungan membuat mereka saling membantu tanpa pamrih, hubungan tetangga dan teman kerjapun berlanjut menjadi hubungan kekerabatan.
"Minggu telah tiba, Libur telah tiba, Hatiku gembira."
Persis syair lagu Tasya di atas, begitulah yang saya rasakan ketika hari minggu tiba. Tau kan yaa, kalau hari minggu bagi emak-emak yang bekerja di luar rumah berarti apa? Yup, hari minggu berarti waktunya quality time bersama keluarga tercinta. Rindu selama seminggu kian menggebu, kian memudar seiring waktu yang berputar. *caelaaah...